Mungkinkah Osteoporosis Terjadi Pada Anak?

Osteoporosis merupakan kondisi pengeroposan tulang yang dapat menimbulkan rasa nyeri pada tulang. Seseorang yang terkena osteoporosis bahkan bisa merasa tulangnya seperti patah. Osteoporosis umumnya dialami wanita yang berusia 18 hingga 30 tahun. Namun, meski jarang, osteoporosis juga dapat dialami anak-anak dan remaja.

Osteoporosis pada anak dan remaja terjadi karena penyakit lain atau penggunaan obat tertentu. Kondisi tersebut disebut sebagai osteoporosis sekunder. Meski demikian, osteoporosis pada anak dapat menjadi masalah serius, karena pembentukan tulang secara optimal terjadi pada usia tersebut.

Menurut para ahli kesehatan, semakin tinggi puncak masa tulang, semakin rendah kemungkinan terjadinya osteoporosis di kemudian hari. Pembentukan massa tulang ini dipengaruhi faktor keturunan (genetik) dan gaya hidup. Terutama jumlah asupan kalsium serta tingkat aktivitas fisik.

Oleh sebab itu, penting untuk Anda mengetahui seluk beluk seputar osteoporosis pada anak, seperti berikut ini:

Apa gejala osteoporosis pada anak?
Osteoporosis pada anak memang tak menunjukkan gejala-gejala yang jelas. Tapi, biasanya anak Anda akan mengeluhkan beberapa hal, seperti timbulnya rasa nyeri di bagian punggung bawah, lutut, pinggang, telapak kaki, pergelangan kaki, bentuk tulang belakang yang abnormal (membungkuk atau bengkok), serta kesulitan berjalan.

Bagaimana cara mengatasinya?
Pada beberapa kasus Anda dapat melakukan beberapa terapi untuk menangani masalah osteoporosis pada anak, seperti memberikan motivasi pada anak untuk melakukan aktivitas fisik yang dapat membantu pertumbuhan tulang yang aman dan tidak menyebabkan risiko terjadinya patah tulang.

Selain itu, Anda juga dapat meningkatkan asupan kalsium setiap harinya. Makanan yang tinggi kalsium di antaranya susu, keju, yoghurt, serta sayur-sayuran hijau. Kebutuhan vitamin D juga harus terpenuhi dengan cara memperbanyak paparan terhadap sinar matahari selama 30 – 60 menit pada pagi hari sebelum pukul 10 pagi. Tak hanya itu, Anda juga harus dapat memantau anak agar ia mengurangi mengonsumsi asupan kafein, seperti kopi, teh, dan minuman bersoda.

Ingat! Jika, osteoporosis pada anak jika tidak segera diantisipasi, pertumbuhan tulang anak bisa tidak optimal. Oleh sebab itu, jika Anda melihat anak mengalami keluhan seperti gejala-gejala tersebut sebaiknya segera periksakan kondisinya lebih lanjut dengan dokter.

 

Sumber : http://meetdoctor.com/article/mungkinkah-osteoporosis-terjadi-pada-anak#/

Pengunjung juga mencari:

  • susu yang bagus untuk usia 18 tahun